News

Friday, 15 September 2017 21:43

Pameran IDEC 2017 Dibuka Hari Ini

Written by

JAKARTA, 15 September 2017 – Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB-PDGI), Koelnmesse Pte Ltd, dan Traya Eksibisi Internasional secara resmi membuka Indonesia Dental Exhibition & Conference 2017 (IDEC) pada hari ini. Pameran dan konferensi IDEC 2017 berlokasi di Jakarta Convention Center (JCC) dan akan berlangsung pada tanggal 15-17 September 2017.

Menempati area pameran seluas 5.000 meter persegi di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC), IDEC 2017 menampilkan berbagai produk, solusi, dan teknologi terbaru dari 229 merek dan bisnis. Sebesar 60% ruang pameran digunakan oleh perusahaan internasional, yang menjadikan IDEC memiliki keunikan tersendiri dalam kalender acara kedokteran gigi Indonesia. Sejalan dengan pameran tersebut, IDEC 2017 juga akan menggelar konferensi ilmiah yang disertai lokakarya langsung bertema "Modern Science and Technology for the Future of Dentistry," yang menampilkan para ahli gigi Indonesia dan internasional sebagai pembicara.

"Pemerintah mengapresiasi PB-PDGI yang baru tiga bulan mampu menyelanggarakan IDEC pertama. Kami terus akan mendorong penguataan pelayanan kesehatan, termasuk juga penguatan SDM tenaga kesehatan, dimana kurikulum kedokteran gigi harus terus diperhatikan dan jangan sampai kompetensi dokter gigi Indonesia di masa depan dipertanyakan," kata Usman Sumantri Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebelum meresmikan IDEC 2017.

Lebih lanjut, Kementerian Kesehatan akan mendukung tiga pilar utama pembangunan nasional yakni Indonesia Sehat, Indonesia Pintar, dan Indonesia Kerja. Beberapa permasalahan khususnya pilar Indonesia Sehat yang masih perlu dibenahi antara lain integrated professional collaboration atau kolaborasi antara dokter dan perawat gigi dan peningkatan kompetensi dokter gigi. Perbandingan jumlah ketersediaan dokter gigi di Indonesia selama ini sekitar 28.880, sementara jumlah perawat gigi sekitar 15.000.

PPSDM Kementerian Kesehatan juga berharap agar PDGI mendorong anggotanya khususnya para dokter gigi muda untuk melayani masyarakat di daerah terpencil di Indonesia, bukan menumpuk di area kota-kota besar. Usman berharap bisa mengurangi rasio kebutuhan dokter gigi terhadap populasi penduduk yang kini perbandingannya 0,097: 1.000.

"IDEC akan menjadi platform unik bagi PDGI dan para anggotanya untuk meningkatkan wawasan keilmuannya bagi pelayanan kesehatan yang lebih baik ke maysrakat, sementara bagi pelaku industri kedokteran gigi yaitu para distributor di Indonesia yang kebanyakan masih mengimpor dari luar negeri bisa memperoleh bahan yang langsung dari produsennya sehingga harga jual di sini lebih murah," tutur Dr. Sri Hananto Seno, drg, MM, Sp.BM, Presiden PDGI.

Dalam sambutannya Dr. Seno mengatakan bahwa IDEC akan menyajikan seminar-seminar ilmiah dengan topik menarik, antara lain mengenai penyakit gigi dan mulut yang dan mulut yang tadinya dianggap bukan penyebab kematian, kini mulai diperhatikan oleh masyarakat karena dapat menyebabkan kelainan yang lebih parah. Oleh karena itu, Dr. Seno

Mengenai pelaksanaannya, Dr. Seno yang pernah mengunjungi IDF (International Dental Forum) di Madrid, Spanyol, menyatakan bahwa IDEC 2017 ini tidak kalah kualitasnya jika dibandingkan dengan pameran-pameran kedokteran gigi skala dunia jika melihat topik-topik ilmiah seminar dan para peserta.

"IDEC 2017 merupakan event yang pertama kali diadakan oleh PB-PDGI yang hadir memberikan keilmuan update tentang industri dan teknologi kedokteran gigi yang tentunya menjadi salah satu tantangan bagi Indonesia untuk memajukan dunia ilmu kedokteran gigi dan memberikan edukasi kepada masyarakat luas. IDEC diharapkan bisa memfasilitasi kebutuhan para professional kedokteran gigi, distributor dan pelaku industri. Dalam event ini juga akan digelar Dental Conference yang akan menghadirkan para ahli tenaga medis, dental supplier. IDEC akan memperkuat posisinya sebagai salah satu platform untuk perusahaan yang ingin meluncurkan peralatan gigi baru, membuka kesempatan bisnis baru serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya produk yang berkualitas dan membuka peluang investasi di Indonesia," jelas drg. Diono Susilo, Ketua IDEC 2017.

 

Mathias Kuepper, Managing Director Koelnmesse Pte Ltd, menambahkan, "Edisi perdana IDEC 2017 telah mendapat dukungan signifikan dari dunia internasional, yaitu 60% ruang pameran diisi oleh perusahaan-perusahaan internasional. Sebanyak 5 paviliun internasional dari Jerman, Swiss, Korea Selatan, Italia, dan China berada di IDEC mewakili industri kedokteran gigi negara mereka. Pengunjung pameran dapat menantikan berbagai produk dari seluruh dunia dan dapat berbicara dengan banyak produsen secara langsung."

 

Seminar ilmiah di IDEC 2017 menampilkan para pembicara ahli, yang akan menyajikan topik menarik tentang teknologi dan praktik seperti, Reciprocating Movement in Endodontics, Improving Your Daily Practice with Dental Photography and Oral Hygiene and Systemic Health. Selain itu, peserta ilmiah dapat mengikuti 12 Workshop Hands-On yang mencakup berbagai topik dalam kelas lokakarya khusus.

 

"Kami berharap IDEC pertama ini akan benar-benar diterima oleh komunitas kedokteran gigi Indonesia dan sejalan dengan tujuan awal kami, dalam hal memberikan update menyeluruh tentang industri kediokteran gigi ke para tenaga ahli gigi profesional Indonesia serta sebagai platform jaringan untuk melanjutkan pengembangan industri kedokteran gigi di Indonesia," ujar Bambang Setiawan, Presiden Direktur PT Traya International Exhibition (Traya Events).

 

IDEC 2017 berlangsung hari Jumat-Minggu, 15-17 September 2017, di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC). Pameran dibuka setiap hari pukul 09.00 - 19.00 WIB (15-16 September), sedangkan pada tanggal 17 September buka pukul 09.00 - 18.00 WIB. Biaya pendaftaran IDEC di lokasi adalah sebesar Rp50.000 / USD 5. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.indonesiadentalexpo.com.

Tuesday, 20 February 2018 16:36

Adding Value Through Additive Dentistry

Written by

Additive dentistry can be used to solve patients’ complex dental problems while preserving their existing tooth structure, and more dentists should use it, says Dr Christopher Ho, a lecturer at the University of Sydney, Australia, visiting lecturer at King’s College London in Britain and faculty member of the Global Institute for Dental Education and Academy of Dental Excellence.

“In the past, we had to grind teeth down to provide room for crowns made of porcelain fused to metal. Now, we can just bond very thin layers of materials such as ceramic or nano-hybrid composite resin to the remaining tooth structure instead. This is healthier and a superior treatment option because when you remove tooth structure, you are removing the integrity of the tooth and weakening the tooth, and you might also cause inadvertent damage to the pulp in the tooth,” he explained.

Furthermore, such additive techniques help to preserve teeth’s remaining enamel. “When you bond materials to enamel, you get a very predictable bond over the long term, which is good for patients,” Dr Ho said. Recent advances in additive materials, such as the nano-hybrids and new versions of lithium disilicates, also have increased strength, excellent longevity and better aesthetics with lustre and fluorescence similar to natural teeth.

Dr Ho said that additive dentistry is especially recommended for people whose teeth has been worn down due to the grinding of teeth or acid erosion caused by poor diet or diseases such as anorexia and bulimia. Dentists should also be familiar with both direct and indirect additive restoration techniques, and use them either singly or in combination depending on the patients’ needs.

He concluded: “All dentists should have these additive concepts in their back pocket and know when and how to use them.”

Dr. Ho will be speaking on the ‘Additive Approach to Complex Rehabilitation: Digital Workflow Meets the Art and Science of Dentistry’ at the IDEM 2018 Conference in Singapore in April.

Sebagai warga negara yang baik maka kita akan taat membayar pajak. Wajib Pajak, sering disingkat dengan sebutan WP, adalah orang pribadi atau badan (subjek pajak) yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu. Wajib pajak bisa berupa wajib pajak orang pribadi atau wajib pajak badan.

Wajib pajak pribadi adalah setiap orang pribadi yang memiliki penghasilan di atas pendapatan tidak kena pajak. Di Indonesia, setiap orang wajib mendaftarkan diri dan mempunyai nomor pokok wajib pajak (NPWP), kecuali ditentukan dalam undang-undang dan tidak terkecuali dokter/dokter gigi. Pelaporan pajak diajukan dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT). SPT ini ada 2 macam, yaitu SPT masa (bulanan) atau SPT tahunan. SPT masa dibayarkan selambat-lambatnya tanggal 10 dan dilaporkan setiap selambat-lambatnya tanggal 20 per bulannya. Sedangkan SPT Tahunan biasanya dilaporkan selambat-lambatnya tanggal 31 Maret untuk WP orang pribadi atau 30 April untuk WP badan.

Praktik Dokter gigi merupakan pekerjaan bebas. Khusus dokter/dokter gigi yang memiliki praktek pribadi dan dokter/dokter gigi pegawai, formulir yang digunakan untuk pelaporan SPT Tahunan adalah dengan menggunakan formulir 1770 (SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi).  Dalam pelaporan pajak, yang digunakan adalah penghasilan netto. Untuk menghitung penghasilan netto ada 2 cara, yaitu menggunakan pembukan atau menggunakan norma penghitungan penghasilan neeto (NPPN). Apakah yang dimaksud dengan NPPN? NPPN adalah suatu perhitungan pajak yang menggunakan persentase dalam menentukan penghasilan netto. Siapa yang diperbolehkan untuk menggunakan NPPN? Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dengan ketentuan peredaran brutonya dalam 1 (satu) tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Syaratnya adalah memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan atau dilakukan bersamaan dengan pelaporan SPT Tahunan dengan mengisi form lampiran pemberitahuan penggunaan norma. -Pasal 14 UU PPh-

NB : Form 1770 tahun 2016 beserta lampirannya dapat diunduh di bawah artikel ini atau download disini

Besarnya norma ditentukan berdasarkan suatu persentase tertentu dan dikelompokkan menurut wilayah tertentu yaitu :

  • 10 ibukota propinsi (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar, dan Pontianak) : 50%
  • Ibukota propinsi lainnya : 50%
  • daerah lainnya : 50%

Namun, bila penghitungan penghasilan netto dokter/dokter gigi, dalam hal dilakukan pemriksaan dan tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan pembukuan atau tidak bersedia memperlihatkan pembukuan atau pencatatan atau bukti pendukungnya, dapat ditetapkan secara jabatan dengan ketentuan norma sebagai berikut :

  • Praktik dokter umum : 62.5%
  • Praktik dokter spesialis : 62.5%
  • Praktik dokter gigi : 62.5%

 

Page 1 of 3